Kebebasan Berorganisasi adalah HAK, Akuntabilitas adalah Kewajiban

Investasi Organisasi dengan Memiliki Staf yang Kompeten

Memiliki manajemen staf yang profesional merupakan salah satu Standar Minimal Akuntabilitas LSM dimana LSM harus memastikan bahwa staf yang bekerja untuk organisasi adalah seseorang yang kompeten.

Tetapi untuk keberlanjutan organisasi, tentu tidak hanya cukup memiliki staf dengan kompetensi yang dia miliki sebelumnya tetapi bagaimana meningkatkan kapasitas tersebut sebagai modal untuk organisasi agar terus maju dan berkembang. Permasalahan-permasalahan yang terjadi di sektor pembangunan dan kemanusiaan sangat dinamis, sehingga untuk merespon hal tersebut perlu kemampuan staf yang profesional agar kegiatan organisasi bisa berjalan dengan efektif dan efisien.

Keputusan untuk membangun kapasitas staf, perlu dilakukan oleh LSM baik LSM besar, kecil, lokal maupun internasional. Akan tetapi, permasalahannya adalah bagaimana organisasi dapat membangun kapasitas dengan sedikit dana yang dimiliki. Bagaimana organisasi dapat berinovasi untuk masa depan jika tidak mampu berinvestasi dengan baik.

Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk menciptakan ‘talent pool’ di organisasi berdasarkan artikel dari Devex berikut ini

  1. Mengikuti pelatihan-pelatihan secara online

Untuk memulai peningkatan kapasitas saat ini banyak sekali platform-platform online dengan berbagai topik dalam berbagai sektor. Tim HR di organisasi perlu mencari pelatihan-pelatihan semacam ini dan meningkatan kemampuan staf. Misalnya seperti Pelatihan Menulis yang dilaksanakan oleh Konsil LSM secara online.

Hal yang paling penting dalam melaksanakan pelatihan secara online adalah diperlukannya konsistensi dari partisipasi peserta yang mengikuti pelatihan. Kemauan yang tinggi untuk meningkatkan kemampuan dirinya, adalah hal yang sangat penting.

  1. Memberikan pelatihan spesifik kepada staf

Selain pelatihan dalam bentuk umum, LSM juga perlu memberikan pelatihan spesifik untuk program-program secara komprehensif. Misalnya LSM memberikan pelatihan khusus mengenai isu disabilitas, sehingga dalam mendesain suatu program, staf dapat mendesain program yang inklusif.

Jika LSM memiliki sedikit dana, LSM bisa menginvestasikannya kepada staf untuk mengikuti pelatihan-pelatihan penting, seperti “pelatihan monitoring dan evaluasi” cukup satu staf yang mengikuti pelatihan seperti ini. Kedepannya ia harus membangun kapasitas di dalam organisasi secara internal (sharing knowledge)

  1. Berinovasi dengan sumber daya/kursus/alat yang murah dan/atau tersedia secara gratis.

Dalam mendesain suatu program staf perlu berfikir secara inovatif, tetapi bagaimana kita dapat membantu staf untuk meningkatkan kemampuannya tersebut. Ide-ide bisa datang dari berbagai sumber, dari apa yang dipelajari di tempat lain ataupun dari website-website yang tersedia secara online seperti http://diytoolkit.org/.

Meningkatkan kemampuan berfikir secara inovatif membutuhkan waktu dan diskusi. Sehingga selain mendapatkan kesempatan, staf juga memerlukan bantuan dari staf lainnya untuk bersama-sama meningkan kemampuan befikir mereka. Karena hal ini hanya dapat terlihat ‘perubahannya’ jika dipraktikan langsung.

  1. Mendorong staf untuk memiliki jejaring profesional

Melalui media sosial, staf dapat membangun jejaringnya dengan berbagai profesional yang memiliki keberagaman topik. Staf dapat mempelajari dan berbagi dengan para profesional di bidangnya dengan mudah. Diskusi baik secara informal maupun formal sangat penting bagi peningkatan kemampuan staf.

Selain cara-cara yang disebutkan diatas, banyak cara lainnya yang dapat diterapkan oleh organisasi untuk meningkatkan kemampuan staf. Minimnya sumber dana bukan menjadi masalah, karena banyak cara lain yang bisa diterapkan. Hal terpenting adalah staf dan organisasi harus menyadari bahwa peningkatan kapasitas staf adalah usaha penting bagi keberlangsungan masa depan organisasi.

Leave a Reply