Kebebasan Berorganisasi adalah HAK, Akuntabilitas adalah Kewajiban

Pemuda dalam Pembangunan : Menjadi Seorang Pemimpin

 

Dengarkan dan lakukan! Memberikan para pemuda suara tidak akan membuat mereka menjadi pemimpin, mendengarkan bukan berati banyak para pemuda dalam berbagai kelompok kerja. Suara mereka harus diikuti dengan aksi yang serius.

Setiap tanggal 12 Agustus diperingati sebagai Hari Pemuda Internasional. Peran pemuda dalam dunia pembangunan, termasuk LSM, sangat penting tidak hanya sebagai ‘peserta’ tetapi ide-ide inovatif yang kerap kali datang dari pemuda bukan hanya untuk masa depan tetapi juga untuk hari ini.

Ketika berbicara tentang perlunya memberikan suara bagi pemuda, atau memberdayakan pemuda, disetujui oleh semua pihak baik pemerintah maupun LSM sebagai hal yang sangat penting. Tetapi berapa banyak kekuasaan mereka untuk pengambilan keputusan yang benar-benar dimiliki oleh para pemuda dalam badan-badan tersebut? Bagaimana para pemuda dapat menjadi lebih berpengaruh dalam pengambilan keputusan?

Perlu disadari bahwa para pemuda telah menjadi pemimpin di bidang pembangunan, trend yang ada saat ini adalah bagaimana para pemuda menjadi pemimpin di gerakan wirausahawan sosial di seluruh dunia. Hal tersebut juga dapat menunjukan bahwa para pemuda adalah solusi dari masalah yang ada, bukan permasalahannya. Marginalisasi yang terjadi adalah karena para pemuda dianggap tidak dapat mengontrol energi mereka terhadap terjadinya kekerasan. Hal tersebut membuat terjadinya diskriminasi disadari ataupun tidak kepada para pemuda dalam mempertimbangkan suara menjadi sebuah aksi yang serius.

Pertumbuhan pemuda yang sangat cepat membuat pertumbuhannya lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang terjadi di negara-negara berkembang. Maka dari itu perlu ada kebijakan yang memberikan peluang ekonomi bagi para pemuda. Tentu saja tidak hanya peluang ekonomi, para pemuda juga perlu dilibatkanbatkan secara sosial dan politik sehingga dapat menciptakan peluang bagi mereka untuk berkontribusi dalam proses pembangunan. Secara tradisional perspektif mereka kerap kali tidak dihargai dan dilihat sebagai ancaman terhadap sistem / stabilitas daripada peluang yang dapat dimanfaatkan untuk berkembang.

Selanjutnya, mereka yang lebih senior atau para orang dewasa perlu membagi pengetahuan dan pengalamannya. Dalam organisasi, para pemuda seringkali memiliki kesulitan dalam menghadapi akses terhadap berbagai sumber maupun akuntabilitas organisasi. Dalam hal ini peran mereka yang lebih dewasa dengan pengalaman dan pengetahuannya yang mumpuni sangat dibutuhkan. Untuk mendukung hal ini semua orang perlu bersama-sama memprioritaskan para pemuda bukan sebagai topik diskusi, tetapi bagaimana para pemuda dapat menjadi seorang pemimpin.

Konsil LSM Indonesia sesuai dengan Kode Etik Konsil LSM Indonesia, Pasal 3 (Anti-Diskriminasi) dan Pasal 4 (Penghormatan terhadap HAM) mengajak semua pihak untuk tidak hanya menjadikan para pemuda sebagai objek tetapi sebagai subjek, tidak hanya memberikan mereka suara tetapi juga mendengarkan suara mereka.

 

Sumber :

Youth in Development : We’re tired of Being the topic of the discussion not the leaders of it

How can young people wield more power around the world

Leave a Reply