Kebebasan Berorganisasi adalah HAK, Akuntabilitas adalah Kewajiban

Penerima Manfaat dan Akuntabilitas Organisasi

Pasal 11

Partisipasi

Yang dimaksud dengan partisipasi adalah Konsil LSM Indonesia melibatkan semua unsur organisasi, komunitas dan pemangku kepentingan secara bermakna dalam proses pengambilan keputusan dan proses pemantauan organisasi.

Di suatu desa terpencil di Indonesia, komunitas ibu-ibu sedang diberikan pelatihan kerajinan asal daerahnya. Tetapi benarkah hal ini benar-benar yang mereka butuhkan? Apakah membuat kerajinan dapat membuat mereka mandiri, atau sebenarnya potensi komunitas tersebut adalah bercocok tanam?

Bagi Lembaga Swadaya Masyarakat, pemberdayaan komunitas adalah kerja utama untuk mencapai masyarakat mandiri. LSM asik mengkampanyekan dan melakukan berbagai kegiatan untuk mendukung terwujudnya kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat.  Dalam logika sederhana ini, tentunya kinerja LSM yang baik adalah kinerja yang memperhatikan para penerima manfaatnya, komunitas dampingannya.

Akan tetapi di lapangan, kejadian kerap kali tidak semudah hal itu. LSM yang memiliki kinerja baik karena ingin tampil baik kepada donornya sehingga akan mendapatkan dukungan lagi di tahun berikutnya. Dalam beberapa kasus,komunikasi dua arah yang seharusnya terjadi antara LSM dan komunitas dampingannya tidak dipertimbangkan ketika membuat program serupa. Bukankah hal ini justru akan membuat kinerja LSM tidak efektif?

Memastikan kinerja yang efektif berdasarkan pembelajaran-pembelajran di kegiatan sebelumnya tidak hanya diatas kertas yang dilaporkan ke donor. LSM sudah seharusnya melakukan hal tersebut untuk kepentingan penerima manfaatnya. LSM tidak boleh berfikir “mereka membutuhkan hal ini” tetapi “apa yang mereka butuhkan”

Hal ini adalah akuntabilitas kebawah, bahwa LSM harus memastikan program dan kegiatannya dipahami oleh penerima manfaatnya. Bahwa penerima manfaatnya percaya kepada LSM, karena kredibilitasnya Keterlibatan komunitas juga sesuai dengan Kode Etik Partisipasi, bahwa dalam penentuan program, semua unsur perlu terlibat termasuk para penerima manfaat itu sendiri.

IFRC membuktikan hal ini, dengan adanya komunikasi dua arah yang dilakukan, mereka mengetahui hal-hal apa yang perlu disampaikan kepada masyarakat yang hidup di daerah rawan bencana, dan melalui media apa saja. Sehingga hal ini akan lebih efektif dan dapat diterima oleh masyarakat, tidak hanya itu sebagai bentuk akuntabilitas, kegiatan partisipasi akan menunjukan kredibilitas LSM tersebut.

“Philip Kotler, one of the leading authorities on marketing famously said, “the key to achieving organizational goals consists in determining needs and wants of target markets and delivering desired satisfactions more effectively and efficiently than competitors.” Best practices and insights are available in plenty. Maybe what is needed is effort to apply them and ask the first fundamental question: – ‘what does the beneficiary really need?”

Leave a Reply