Tak pernah terbayangkan buat BPSABS (Badan Pengelola Sarana Air Bersih dan Sanitasi) di Jurong (Dusun) Lubuk Simatau, Nagari Mulang, Kab Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, bisa mengakses dana APBD.

Pasalnya, sejak berdiri pada tahun 2002, organisasi berbasis komunitas alias CBO (Community Based Organizations), ini selalu kalah saing dengan PDAM. Pemda bahkan selalu mendorong mereka untuk bisa merger dengan PDAM dalam mengelola air bersihnya.

Tak mendapat dukungan Pemda, merekapun tak putus asa. Pasca program kerjasama dengan Totalitas dan PCI, merekapun menggalang dana dari berbagai donatur. Target mereka sederhana, seluruh warga Jurong bisa menikmati air bersih dan sanitasi dengan murah. Tentunya menggalang dana publik membutuhkan kepercayaan publik yang tinggi. Pantang disangka menyalahgunakan dana, BPSABS pun selalu transparan dengan penggunaan uangnya. Laporan keuangan selalu ditempel di jurong. Tak cuma itu, setiap penyumbang pun mendapatkan kwitansi asli lengkap dengan dokumentasi pipa yang dibeli dari hasil sumbangan. Tak pelak lagi, donatur merasa senang, kepercayaan meningkat. Tak heran kalau kemudian BPSABS Jurong Lubuk Simatau bisa membangun sarana air bersih dan sanitasi yang dapat melayani seluruh warga Jurong. Mereka mendapatkannyapun secara gratis.Untuk biaya pemeliharaan, BPSABS hanya memungut 2000 rupiah per kepala keluarga, jauh lebih murah dari PDAM. Sedang seluruh pegiat BPSABS adalah relawan warga sekitar. Keberhasilan BPSABS menjangkau seluruh warga inipun disyukuri dengan selamatan kecil, mengundang warga dan stakeholder setempat. Wakil Bupati yang diundangpun terkesan. Ia sama sekali tak menyangka BPSABS yang dikelola warga secara sukarela mampu mengelola infrastruktur yang merupakan kebutuhan dasar warga. Karenanya, Pemda pun kemudian tak berkeberatan mengalokasikan dana 60 juta bagi BPSABS Lubuk Simatau untuk bisa mengelola sarana air bersih dan sanitasi di satu nagari.

Kuncinya: Transparan dan Akuntabel
Bagi Totalitas, upaya BPSABS Lubuk Simatau menggalang dana dari luar adalah keberhasilan luar biasa. Menurut Yos Rizal, Direktur Totalitas, kuncinya adalah Transparan dan Akuntabel. Prinsip inilah yang digunakan Totalitas ketika mendampingi kelompok-kelompok warga, salah satunya adalah BPSABS Lubuk Simatau. Totalitas misalnya, selalu membagi informasi mengenai program yang dilaksanakan dan juga penggunaan dana kepada kelompok dampingannya, sehingga terbangun mutual trust diantara keduanya. Hal ini juga dilakukan dengan donatur. Tak heran, jika Totalitas juga punya sederet donatur yang setia. Hal yangs sama juga diamini Olivia Reksodiputro, dari Yayasan Usaha Mulia (YUM). Dalam workshop fundraising yang diadakan Tifa dan Swisscontact, ia mengemukakan kuncinya adalah menjadi akuntabel. Berbekal prinsip ini ia kemudian membenahi organisasi yang nyaris bangkrut, dengan hanya 12 juta di rekening, setumpuk tagihan dan gaji karyawan yang 6 bulan tak dibayarkan,- menjadi organisasi dengan dana yang dikelola lebih dari satu milyar rupiah hanya dalam waktu kurang dari satu tahun. YUM secara aktif melaporkan kepada publik dan donaturnya apa yang dikerjakan dan bagaimana dana yang disumbangkan dikelola. Tak cuma itu, YUM pun melakukan pembenahan besar-besaran di dalam organisasinya, termasuk diantaranya membangun mekanisme internal yang akuntabel, dan membangun saluran-saluran bagi publik untuk bisa ikut serta dalam program yang dilakukan YUM.

Jadi, kenapa harus takut menjadi transparan dan akuntabel.

Sumber: Tifa Foundation

related posts

Leave a Comment