asafagDigital Activism succeed as the alternative social campaign tool to build the awareness in society for any important issues. #bringbackourgirls became very famous on twitter, April 2014. In less than three weeks the hashtag had been used over 1 million times with everyone from supermodel Cara Delevingne until the first lady of the United States at that time Michelle Obama.

Exactly on the April 14th 2014, 274 school girls were abducted by Boko Haram in the northern Nigerian village of Chibok. Even got a positive response the campaign (digital) #bringbackourgirl didn’t really make any change, until today 195 are remain missing, leaving their families with nothing to do but to wait in hope.

In the other sides, last January when Trump innagurated as the 45th President of the United States of America, women from all over the country did the Women’s March as the response on Trump behaviour towards women and for the equality. It was successful, the biggest in the American History and dominated the news outlet compare to the New President News. The front-page headlines in most newspapers focused on the marches in their local cities and around the country. Many papers had no front-page stories at all about Trump’s first day as president.

The most interesting part from this Women’s March is, everything started as a Facebook post. NARAL and Planned Parenthood provided some support, but the march was not directed by paid organizers for national organizations. There was no central slogan or theme. There were few professionally printed signs. In most cities, volunteers found each other via social media or friendship networks and did the grunt work—getting police permits, identifying march routes, recruiting speakers and musicians—necessary to pull off a public protest.

This situation provide the importance of social media in organizing the mass. In the case of #bringbackourgirls majority only doing ‘click’ because it is hard to do any action, while in the Women’s March, after confirmed their attendances in Facebook, they do came and/or do similiar March in their cities.

However, there is one question left, are this will really make a change? In #bringbackourgirls after more than thousands days passed, majority of the school girls still missing. In the case of  Women’s March, they are trying to collected the data of the supporter through professional website, so if in the future they have another together-activities it will be east to contact each other, not only on Facebook. We can see this is need to be manage professionaly, need to be monitor with credibel organisations to make it into change. Those initiated activities from social media giving a broader understanding for the society, but it won’t stop ther will it? It need more initiatives and a real movement to ensure how to make the change.


asafagAktivisme digital berhasil menjadi salah satu alternatif dalam melakukan berbagai kampanye sosial untuk membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya suatu isu. #bringbackourgirls yang menjadi sangat fenomenal di twitter, pada April 2014. Kurang dari 3 minggu, hastag bring back our girls telah dikampanyekan 1 juta kali di seluruh dunia, dari supermodel Cara Delevinge hingga First Lady United States saat itu, Michelle Obama.

Tepatnya pada tanggal 14 April 2014, 274 siswi diculik dari hostel mereka oleh Boko Haram di Nigeria Utara, wilayah Chibok. Meski mendapat respon positif, kampanye #bringbackourgirls tidak terlalu membawa perubahan, sampai hari ini 195 masih menghilang, meninggalkan keluarga mereka yang tidak berdaya kecuali menunggu dalam harapan.

Disisi lain, pada Januari lalu, saat Presiden Trump dilantik sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat, para perempuan di seluruh wilayah Amerika Serikat melakukan Women’s March sebagai respon akan tindakan Trump yang melecehkan Perempuan dan untuk kesetaraan perempuan. Women’s March ini disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah Amerika Serikat, dan pemberitaan Women’s March di media sangat besar dibandingkan dengan Presiden yang baru saja terpilih. Headline utama dari koran-koran di Amerika Serikat adalah marches di kota mereka dan di seluruh negeri. Bahkan di halaman pertama banyak koran tidak menceritakan tetang hari pertama Trump sebagai Presiden.

Hal lain yang paling menarik dari Women’s March ini adalah, semua berawal dari post Facebook NARAL dan Planned Parenthood yang memberikan dukungan, tetapi tidak ada tema ataupun slogan utama. Sangat sedikit sekali peraga kampanye yang profesional. Di beberapa kota, para relawan ini saling bertemu di sosial media atau berdasarkan jejaring pertemanan mereka dan melakukan pekerjaan dari meminta izin polisi, identifikasi jalur march, sampai mencari narasumber dan musisi untuk menjadi protes publik.

Hal ini juga sangat menunjukan bahwa pentingnya peran sosial media dalam mengorganisir massa. Jika pada kasus #bringbackourgirls mayoritas hanya melakukan ‘klik’ karena memang sangat sulit untuk melakukan tindakan, dalam Women’s March setelah memastikan kedatanngannya di Facebook, mereka datang dan/atau membantu melakukan March di kotanya masing-masing.

Akan tetapi, pertanyaannya, apakah hal ini akan membawa kepada perubahan? Dalam #bringbackourgirls setelah lebih dari 1000 hari berlalu, mayoritas anak perempuan masih menghilang. Dalam kasus Women’s March, mereka mencoba mendata para pendukung kembali melalui website yang dibentuk, sehingga tidak hanya di facebook. Tetapi tentu ini harus dikawal terus oleh organisasi yang permanen, sehingga bisa terjadinya suatu perubahan.  Kegiatan-kegiatan yang diinisiasi dari media sosial memberikan kesadaran luas bagi Masyarakat, tetapi gerakan tidak berhenti sampai pemberian kesadaran saja bukan? Perlu ada inisiatif dan gerakan bersama untuk memastikan terjadinya perubahan yang ingin dicapai.

References :

New Wave of Digital Activist

Turning March Movement

One Year Bring Back Our Girls

 

related posts

Leave a Comment