Foto1

Dalam membangun kemitraan antara LSM, pemerintah dan perusahaan, anggota konsil LSM di Jawa Timur (IdFoS, Paramitra, KPI & LPKP) melaksanakan match making dialog terkait pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) pada tanggal 13 April 2017 bertempat di Hotel Crown Prince Surabaya. Sebagaimana acara match making yang bertujuan untuk mempertemukan berbagai stakeholder, peserta yang hadir dalam dialog ini terdiri dari pihak pemerintah provinsi Jatim (Bappeda), perwakilan perusahan dan LSM yang berada di Jawa Timur.

Dialog dengan tema “Implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) yang Berkelanjutan dan Berdampak pada Pengurangan Kemiskinan dan Kelestarian Lingkungan” menghadirkan 2 (dua) narasumber, yaitu dari pihak LSM dan Perusahaan. Joko Hadi Purnomo selaku Host Task Force Konsil LSM Indonesia wilayah Jawa Timur membawakan materi tentang Akuntabilitas LSM dan Beta Toni Agus Wicaksono selaku humas ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) membawakan materi tentang Program pemberdayaan masyarakat EMCL dan sharing pengalaman ExxonMobil Cepu dalam bermitra dengan LSM untuk pengelolaan CSR.

“Pengelolaan CSR saat ini cenderung dilakukan dengan pendekatan charity dan jangka pendek, sehingga hasilnya tidak berkelanjutan dan berdampak sesaat saja.  Oleh karena itu, anggota Konsil LSM Jatim sangat mengapresiasi perusahaan yang telah mengelola CSR dengan pendekatan jangka panjang dan kepada perusahaan yang belum mengelola CSR dengan pendekatan jangka panjang, untuk  segera merubah pengelolaan CSR nya agar program CSR yang dilakukan bisa berdampak jangka panjang dan berkelanjutan” ungkap Joko dalam salah satu sesi dialog tersebut.

Sementara Beta Toni dari ExxonMobil menekankan bahwa pengelolaan CSR dengan pemberdayaan masyarakat dalam jangka waktu yang panjang lebih diprioritaskan oleh perusahaannya dan dalam pelaksanaan CSR nya, Exxon senantiasa bermitra dengan LSM. Sepanjang pengalamannya bermitra dengan LSM, Exxon tidak mengalami tantangan dan hambatan yang besar, salah satunya dikarenakan proses dan mekanisme yang akuntabel yang ada di LSM mitra.

Antara LSM dan perusahaan seharusnya bisa bermitra dengan baik terutama dalam pengelolaan CSR. Dalam dialog ini terungkap bahwa sebetulnya banyak perusahaan yang membutuhkan mitra dari LSM dalam melaksanakan CSR nya, namun ada kekhawatiran karena belum mengenal LSM tersebut, terlebih masih adanya anggapan bahwa LSM hanya mencari uang semata.

Akuntabilitas LSM yang terus dipromosikan oleh anggota konsil kepada perusahaan dan pemerintah merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengubah anggapan bahwa LSM tidak dikelola secara professional dan akuntabel. Akuntabilitas LSM merupakan modal bagi LSM untuk keberlanjutan lembaganya dan pada satu sisi juga dapat memunculkan kepercayaan dari pihak luar. Hal ini dapat dilihat pembelajaran baik dari  anggota konsil LSM di Jawa Timur, dimana  ketika mereka  menerapkan akuntabilitas dalam pengelolaan lembaganya, ada perusahaan yang tertarik dan mengajak untuk bermitra.


In developing the partneship between NGO, government and private sector, Konsil LSM members in East Java (IdFoS, Paramitra, KPI & LPKP) held the match making dialogue for the implementation of Corporate Social Responsibility (CSR) on April 13th, 2017 at the Crown Prince Hotel Surabaya. As the aim for match making event to gathered various stakeholder, the participant coming from the government of East Java Province (Bappeda), Company Representative and NGO in East Java.

The dialogue with the theme “Implementation on Corporate Social Responsibnility (CSR) that has sustainable and significant impact on Poverty Reduction and Environmental Sustainability” has two main speakers, coming from NGO and Company. Joko Hadi Purnomo as the Host Task Force of Konsil LSM in East Java present about the NGO Accountability and Beta Toni Agus Wicaksono as public relation of ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) present abouth the community empowerment program EMCL and sharing ExxonMobil Cepu experiences on having the partnership with NGO to implemented the CSR program.

“Currently the approach for CSR program tend to be charity and in the short term, that is why the results aren’t sustainable and only has temporarily impact. For that reason the members of Konsil LSM in East Java highly appreciated to the Company that has been done the CSR with the long-term and sustainable approach. Also to the Company that still do the ‘charity’ , we encourage to change it soon so the CSR program will has more sustainable and significant impact for the society” stated Joko in one of the session of the dialogue.

Meanwhile Beta Toni from ExxonMobil emphasized that the CSR that has the approach for community empowerment has been prioritized by ExxonMobil and in the CSR program, ExxonMobil constantly have partnership with NGO. Throughout of Exxon’s experiences in partnership with NGO, Exxon hasn’t any complaint, one of the reason is because the accountable process and mechanism in the NGO partner.

The NGO and company supposed to develop a well partnership in CSR Program. On this match making dialog, there has been revealed that there are a lot of companies that need the partner from NGO for the CSR Program, however they have been worried because they didn’t know the NGO yet, moreover there are still the assumption that NGO only looking for monye.

The member of Konsil LSM always promote the NGO Accountability to company and government as one of the way to change the assumption that NGO hasn’t been managed proffesional and accountability. The NGO Accountability become the asset for NGO for their sustainability and in another way also build the trust from other parties. We can see the lesson learned from Konsil LSM members in East Java, where they implemented the accountability, there are company that interested into them and would like to have partnership.

related posts

Leave a Comment