Terdampak Covid-19, Ratusan Ribu Buruh Kelapa Sawit Terancam PHK

by Fahd
0 comment

Mendekati peringatan Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap 1 Mei, para  buruh dihadapkan dengan kondisi yang “kelabu” bagi kesejarteraan para buruh, hal ini tak lepas akibat terus berlanjutnya pandemi Covid-19 yang belum menunjukan tanda-tanda akan berakhir masa pandemi tersebut, terus meluasnya pandemi Covid-19 mengakibatkan gelombang masif Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) diberbagai sektor usaha di Indonesia, tanpa terkecuali industri perkebunan Kelapa Sawit yang menyerap jutaan tenaga kerja di Indonesia.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Nursana, pengurus Hukatan (Federasi Serikat Buruh Kehutanan), terdapat 16 juta orang yang bekerja di sektor Kelapa Sawit, dirinya saat ini masih mendata berapa orang yang terdampak PHK akibat jatuhnya harga minyak sawit ditengah pandemi ini, namun diyakini berdasarkan data sementara sudah mencapai belasan ribu sudah terdampak PHK. Untuk itu Nursana menghimbau para perusahaan Kelapa Sawit untuk memperhatikan kesejahteraan para buruh dengan tidak melakukan PHK, namun mencari solusi lain yang dapat menyelamatkan perusahaan dankhususnya para buruh yang bekerja di perusahaan kelapa sawit.

Ketua Bidang Tenaga Kerja Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Sumarjono Saragih mengungkapkan bahwa saat ini pengusaha-pengusaha kelapa sawit di Indonesia dihadapkan pada kondisi sulit yang tidak terduga, akibat dampak dari Pandemi Covid-19 yang menjangkit seluruh negara dunia, termasuk Indonesia mengakibatkan anjloknya harga minyak dunia, Sumarjono mengerangkan bahwa harga CPO sangat bergantung pada harga minyak dunia, saat ini harga minyak jatuh pada level terendah dalam sejarah yang tentunya berdampak pada harga CPO yang turut anjlok secara drastis. Saat ini permintaan pasar global terhadap CPO jatuh, harga jatuh, sedangkan biaya produksi tidak turun.

Lebih lanjut Sumarjono menerangkan bahwa tidak dipungkiri bahwa saat ini banyak pengusaha yang sudah merumahkan karyawan-karyawan kontrak maupun harian mereka, namun untuk karyawan tetap masih terus diupayakan formulasi untuk meminimalisir dampak bagi keberlanjutan mata pencaharian karyawan tetap, namun hal ini sebatas yang ia ketahui hanya pada perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit yang bernaung dibawah GAPKI, pihaknya tidak mengetahui apa yang terjadi pada perusahaan-perusahaan yang tidak bernaung dibawah naungan GAPKI.

Kondisi yang dihadapi oleh perusahaan kelapa sawit ini terungkap ketika Sumarjono menjadi pembicara dalam Seminar Daring yang bertajuk, Road to Mayday, Bisnis Kelapa Sawit yang Ramah HAM, dalam rangka peluncuran Jurnal Akuntabilitas edisi-7 Uji Tuntas HAM Sebagai Mekanisme Penghormatan HAM di Sektor Bisnis yang diselenggarakan oleh Konsil LSM Indonesia pada Selasa 21 April 2020 lalu.

Jurnal Akuntabilis merupakan Jurnal Ilmiah yang oleh Konsil LSM Indonesia dededikasikan bagi kemajuan Lembaga Swadaya Masyarakat di Indonesia, pada setiap edisi Jurnal akuntabilitas selalu mengangkat tema yang sejalan dengan tujuan bagi perkebangan dan kemajuan LSM  di Indonesia untuk lebih akuntabel, dan memiliki kapasitas serta kompetensi untuk menwujudkan wajah LSM di Indonesia yang lebih positif dan professional


related posts

Leave a Comment