PELUANG KEBERLANJUTAN ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL PASKA PANDEMI COVID-19 (Peluncuran Civil Society Organization Sustanability Index Tahun 2019/CSOSI2019)

by Admin Konsil LSM Indonesia
0 comment

Jakarta, 12/11/2020

Pada 2019 lalu, KONSIL LSM dengan dukungan USAID melalui FHI360 dan ICNL, melakukan penilaian terhadap keberlanjutan operasional organisasi masyarakat sipil (OMS/CSO), melalui survey. Temuan umum dari survey ini menyatakan bahwa keberlanjutan operasional OMS masih berada dalam level berkembang (skor 3.9 dari 4). Secara khusus, survey ini melakukan penilaian keberlanjutan operasional CSO dengan mempertimbangkan tujuh variable, diantaranya; keuangan, infrastruktur sektoral, kapasitas advokasi, lingkungan hukum yang kondusif, citra publik, penyedia layanan dan kapasitas organisasi. Berdasarkan survey ini, OMS dianggap sangat kuat pada dimensi advokasi, penyedia layanan dan kapasitas organisasi, yang secara umum meningkat selama lima tahun terakhir. Meski demkian, pada empat dimensi lainnya, cenderung stagnan dan mengalami penurunan. Aspek-aspek yang mempengaruhi stagnasi dan penurunan nilai keberlanjutan operasional OMS diantaranya adalah situasi politik nasional pada masa dan pasca pemilihan presiden, yang ditunjukkan dengan adanya kekerasan terhadap OMS, peristiwa intoleransi, dan rentetan peristiwa yang mengancam kebebasan berpendapat. Hal ini sesuai dengan pemaparan dari Misran Lubis, Direktur Eksekutif KONSIL LSM Indonesia, dalam launching Civil Society Organisation Sustainability Index 2019 (CSOSI 2019), hari ini (12/11/2020) secara virtual.

Dokumentasi peluncuran CSOSI Indonesia

Pada peluncuran CSOSI 2019 ini, hadir dan menyampaikan pandangan diantaranya; Drs Wariki Sutikno-Direktur Politik dan Komunikasi Bappenas, Misran Lubis-Direktur Eksekutif KONSIL LSM Indonesia, Sugeng Bahagijo-Direktur Eksekutif INFID, Isono Sadoko-Peneliti Senior AKATIGA, Neglasari Martini-Head of Stakeholder Engagement Asia Pulp and Paper, dan Rosniaty Azis-Direktur Yasmib dari Sulawesi. Acara ini dimoderatori oleh Esti Nuringdiah, Majelis Anggota Nasional-Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia.

Mengawali seminar virtual, sambutan pembukaan disampaikan oleh Frans Tugimin-Ketua Pengarah Nasional KONSIL LSM Indonesia, dalam kata sambutannya, frans tugimin mengapresisasi kerja-kerja eksekutif yang telah berhasil menyelesaikan laporan CSOSI2019 yang merupakan agenda reguler tahunan, dan tahun 2019 kemarin merupakan penitian yang ke-5. “saya mengamati dari tahun ke tahun penilaian CSOSI ini, tidak melihat perkembang yang progresive, tetapi bergerak sangat lambat. Ini bisa saja membuktikan bahwa OMS di Indonesia itu memang memiliki tantangan yang sangat berat, terutama dalam masalah keberlanjutan keuangan dan masalah lingkungan hukum. Kedepan tantangannya tentu semakin berat, apalagi tahun ini situasi pandemi dan dampaknya juga dialami OMS”. Lebih lanjut Frans Tugimin mengatakanrasa optimisnya, meski dalam situasi pandemi, tapi melihat kehadiran pihak Bappenas, USAID, MADANI, dan tokoh-tokoh senior OMS dalam forum ini, semoga akan menghasilkan solusi konkrit untuk mengatasi krisis di OMS.

Anders Matius dalam sambutannya, menyampaikan atas nama USAID sebagai pihak yang mendukung pelaksanaan penilaian CSOSI, menegaskan komitmen USAID untuk mendukung proses konsolidasi demokrasi di Indonesia dan mengakui peran penting organisasi masyarakat sipil mendorong demokratisasi dan penguatan tata kelola di Indonesia. USAID melalui KONSIL LSM dan FHI360, mendukung penyusunan laporan tahunan Indeks Organisasi Masyarakat Sipil. USAID berharap indeks ini dapat memberikan gambaran tentang kondisi kemandirian (Journey to Self-Reliance) organisasi masyarakat sipil di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Lebih lanjut Anders merasa senang mengetahui bahwa telah terjadi perbaikan terhadap Indeks CSO tahun 2019 untuk Indonesia, terutama dari aspek kolaborasi dalam penyediaan layanan dan kapasitas organisasi. Di sisi lain, saya menyadari bahwa CSO di Indonesia masih perlu membenahi diri diri, terutama dari aspek pencitraan (images) dan lingkungan pendukung (enabling environment). Di masa mendatang, USAID siap untuk bekerjasama mengatasi tantangan ini.

Mewakili pemerintah sebagai keynote Speakers, Wariki Sutikno, Direktur Politik dan Komunikasi BAPPENAS dalam paparannya menyampaikan bahwa arah kebijakan dan strategis program prioritas konsolidasi demokrasi salah satunya adalah melalui penguatan kesetaraan dan kebebasan melalui peningkatan kualitas dan kapasitas Organisasi Masyarakat Sipil. OMS merupakan bagian penting dari pilar Demokrasi di Indonesia, oleh karenanya ditengah masa-masa sulit bagi keberlanjutan OMS baik dari sektor keuangan maupun kapasitas, Pemerintah berkomitmen untuk mendukung upaya-upaya keberlanjutan OMS di Indonesia. Di akhir presentasinya Wariki Sutikno menyampaikan gagasan bahwa saat ini sedang dibahas do Bappenas sebuah model kelembagaan Komisi Masyarakat Sipil dan ajakan untuk OMS di indonesia berkolaborasi mewujudkan gagasan tersebut, karena itu salah satu cara agar sumber pendanaan negara dapat dimanfaatkan untuk penguatan OMS. 

Usai pembukaan dan paparan narasumber kunci, diskusi situasi OMS dibahas oleh 5 narasumber dengan berbagai sudut pandang yang berbeda. Diawali dengan paparan dari Misran Lubis menyampaikan temuan-temuan pokok dari penilaian CSOSI2019. Berdasarkan CSO Sustainability Index 2019, secara keseluruhan keberlanjutan OMS berada pada posisi “berkembang”. Status ini tidak berubah dari tahun sebelumnya (2018), namun ada penguatan sebesar 0,1 (dari 4,0 menjadi 3,9). Penguatan 0,1 tersebut berasal dari element CSOSI “Kemampuan Finansial” dari 4,4 menjadi 4,3, “Advokasi” dari 3,3 menjadi 3,2, : Penyediaan Layanan” dari 3,7 menjadi 3,6. Sementara elemen CSOSI yang berada pada konsisi stagnan adalah “Lingkungan Hukum”, selebihnya mengalami penurunan sebesar 0,1.

Acara peluncuran Laporan CSOSI 2019 yang dilakukan secara virtual pada Kamis, 12 November 2020 mengangat tema “Menakar Keberlanjutan CSO di Tengah Pandemi Covid-19”diikuti kurang lebih 68 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang profesi. Sebagai salah satu pilar penting dari system demokrasi, keberlangsungan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) perlu dicarikan jalan keluarnya, mengingat penambahan jumlah OMS terus meningkat setiap tahunnya paska reformasi 1998.

Sugeng Bahagijo, Direktur Infid menyampaiakan hasil Penelitian yang dilakukan Infid bahwa di masa Pandemi Covit-19 sebagian besar OMS mengalami masalah keuangan dan keberlanjutan keuangan. Sugeng Bahagijo memberikan pandangan bahwa untuk menjawab persoalan keberlanjutan OMS dapat dilakukan melalui (1) diseminasi pemanfaat “Skema Swakelola Tipe 3”; (2) Diseminasi dan pemanfaat SE Mendagri Nomor 440 tahun 2020 tentang Kemitraan Pemerintah dan Ormas dalam penanganan Covid 19.

Gagasan tersebut gayung bersambut dengan apa yang sudah dilakukan oleh YASMIB Sulawesi. YASMIB telah melakukan advokasi Perpres 16 tahun 2018 tentang PBJ yang menjadi landasan untuk mendorong implementasi Swakelola Tipe 3. Rosniaty Azis menyampaikan bahwa untuk dapat menjalankan Swakelola Tipe 3 harus ada “Trust”, baik dari pemerintah kepada Ormas maupun sebaliknya.

Peluang pendanaan untuk keberlanjutan OMS tidak hanya bersumber dari dana pemerintah, namun dapat juga berasal dari sektor bisnis yaitu CSR. Dalam kesempatan ini, Negla dari APP Sinar Mas menyampaikan tentang pentingnya kolaborasi antara APP dan partner. Sejauh ini APP lebih banyak melakukan program filantropi. Diakhir sesi Negla menyambut baik dan membuka diri untuk diskusi kedepan terkait CSO dan bisnis.

KLIK UNTUK DOWNLOAD DOKUMEN CSOSI INDONESIA 2019 REPPORT

related posts

Leave a Comment