Beranda blog Halaman 19

Pelatihan Penggunaan Internet Sehat oleh PKPA Medan

0

Internet Sehat PKPA

Medan – Yayasan Pusat Kajian dan Pelindungan Anak (PKPA) melakukan pendidikan internet sehat ‘Training of Trainer Peer Educator – Penggunaan Internet Sehat bagi Pelajar Kota Medan Tahun 2016’. pada 26-27 Agustus 2016 Para peserta pelatihan ini adalah para pelajar dari SD – SMA di kota Medan dengan total 9 sekolah yang diwakili oleh beberapa siswa-siswinya.

Pendidikan Internet sehat merupakan hal yang sangat penting di era globalisasi ini. Apalagi bagi anak-anak agar mereka dapat menggunakan internet untuk kegiatan positif. Hal ini merupakan pencegahan terhadap akses pornografi dan tindakan kriminal yang kerap kali terjadi dalam internet.

PKPA memiliki kekhawatiran yang tinggi terhadap situasi kejahatan terhadap anak, tidak hanya yang dihadapi langsung namun juga mellaui jejaring sosial. Materi pelatihan terkait internet sehat yang diberikan, , di antaranya tentang anak dan hak-hak anak, tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan eksploitasi seksual anak, kejahatan perdagangan orang dan eksploitasi seksual anak di jejaring online, serta tips dan trik melakukan pengamanan di jejaring online.

Pelatihan ini didukung oleh Mensen Met Een Missie dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). PKPA merapkan pelatihan yang mendorong para peserta pelatihan dapat menjadi pendidik sebaya dalam pencegahan perdagangan orang dan eksplotasi sesksual anak melalui pendidikan internet sehat.

Sehingga transformasi pengetahuan mengenai internet sehat akan terus berjalan, dengan harapan penggunaan internet positif serta dapat melindungi anak-anak dari kejahatan yang terjadi di dunia maya.

PKPA merupakan salah satu anggota Konsil LSM yang telah compliance dengan standar minimal akuntabilitas melalui assesment yang dilakukan tahun 2014. Kenali PKPA di sini.

Sumber :

https://www.facebook.com/PkpaIndonesia/?fref=ts

http://www.koran-sindo.com/news.php?r=4&n=69&date=2016-08-28

http://ceritamedan.com/2016/08/pkpa-adakan-sosialisasi-tentang-penggunaan-internet-sehat-bagi-para-pelajar.html>

Medan, North SumatraYayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA), the Center for the Study and Protection of Children,  provided training about internet safety: “Training  Peer Educator Trainers – Safe internet use for students , 2016”. The participants of this training were  student representatives from a total of 9 elementary level through to  high schools.l..in Medan

Education about internet safety is especially necessary today, in the era of globalisation. For the children, this will be useful so they can use the internet for positive activity. The training also is a way to prevent access to  pornography and criminal activities through using the internet.

PKPA holds deep concerns about crimes towards children, not only directly but also indirectly by using the internet. Training materials related to healthy internet use, and issues such as children’s   rights, the crime of human trafficking and  sexual exploitation of children, via online networks, as well as maintaining privacy and how the secure personal information online.

This training was support by Mensen Met Een Missie and the Ministry of Education and Culture. PKPA implemented the training to support the participants to become peer educators for other young people about preventing child trafficking and sexual exploitation and internet security The aim is that young people get the knowledge to use the internet positively and to protect them from the crimes that tend to happen through internet.

PKPA is one of the Konsil’s member that has been comply with minimum standard of accountability from the 2014 assesment. Get in touch with PKPA here.

Source :

https://www.facebook.com/PkpaIndonesia/?fref=ts

http://www.koran-sindo.com/news.php?r=4&n=69&date=2016-08-28

http://ceritamedan.com/2016/08/pkpa-adakan-sosialisasi-tentang-penggunaan-internet-sehat-bagi-para-pelajar.html

Pemuda dalam Pembangunan : Menjadi Seorang Pemimpin

0

the-Voice-of-YouthPicture : thevoiceofyouth.com

Listen and act! Giving the youth voice only won’t make them as leaders, listening doesn’t mean creating more youth adviser positions and working groups. It means taking those voices seriously.

Every year, on August 12th is celebrated as International Youth Day. The roles of youth in the development worlds, including NGOs, is very important – not only as a participants but their voice will contribute not only for the better future but also for today.

When we are talking about giving the youth a voice or youth empowerment, we all do agree that it is a very important thing. But how much power over decision making in these bodies do young activists really have? How the young people can influence more development decisions?

It has to be recognised that there are youth who are leaders in development, the trend across the world is the young people are already spearheading the social entrepreneurial movement. This is also showed that youth is the solution not the problem. However youth marginalisation can also channel young people’s energy towards violence. This is makes  discrimination against youth (aware or unaware) having a voice  a serious issue.

The youth population is growing faster than the economy in many developing cities and countries. That is why it is need to improve policies that create economic opportunity for young people. Not only for economic opportunity, young people also need to be engage socially and politically so they can contribute to the development processes. From the traditional / customary perspective, the youth engagement sometimes see as the threats to stability rather than opportunities to harness their energy and abilities

Next, they who are more senior or adults need to share their knowledge and experiences. Young people often face issues related to resources, access, and accountability in the organisations. For this case, the role from the adults is necessary. Everyone need to keep on top of youth priorities, aware of them not as a topic for discussion but as the leaders.

Konsil LSM as mandated of Code of Ethics Konsil LSM, in article 3 “Anti-Discrimination” and article 4 ”Respect for Human Right” encourages all party for not only engage the youth as the object but also the subject, not only giving them voice but taking their voices seriously.

Source :

Youth in Development : We’re tired of Being the topic of the discussion not the leaders of it

How can young people wield more power around the world

 

Dengarkan dan lakukan! Memberikan para pemuda suara tidak akan membuat mereka menjadi pemimpin, mendengarkan bukan berati banyak para pemuda dalam berbagai kelompok kerja. Suara mereka harus diikuti dengan aksi yang serius.

Setiap tanggal 12 Agustus diperingati sebagai Hari Pemuda Internasional. Peran pemuda dalam dunia pembangunan, termasuk LSM, sangat penting tidak hanya sebagai ‘peserta’ tetapi ide-ide inovatif yang kerap kali datang dari pemuda bukan hanya untuk masa depan tetapi juga untuk hari ini.

Ketika berbicara tentang perlunya memberikan suara bagi pemuda, atau memberdayakan pemuda, disetujui oleh semua pihak baik pemerintah maupun LSM sebagai hal yang sangat penting. Tetapi berapa banyak kekuasaan mereka untuk pengambilan keputusan yang benar-benar dimiliki oleh para pemuda dalam badan-badan tersebut? Bagaimana para pemuda dapat menjadi lebih berpengaruh dalam pengambilan keputusan?

Perlu disadari bahwa para pemuda telah menjadi pemimpin di bidang pembangunan, trend yang ada saat ini adalah bagaimana para pemuda menjadi pemimpin di gerakan wirausahawan sosial di seluruh dunia. Hal tersebut juga dapat menunjukan bahwa para pemuda adalah solusi dari masalah yang ada, bukan permasalahannya. Marginalisasi yang terjadi adalah karena para pemuda dianggap tidak dapat mengontrol energi mereka terhadap terjadinya kekerasan. Hal tersebut membuat terjadinya diskriminasi disadari ataupun tidak kepada para pemuda dalam mempertimbangkan suara menjadi sebuah aksi yang serius.

Pertumbuhan pemuda yang sangat cepat membuat pertumbuhannya lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang terjadi di negara-negara berkembang. Maka dari itu perlu ada kebijakan yang memberikan peluang ekonomi bagi para pemuda. Tentu saja tidak hanya peluang ekonomi, para pemuda juga perlu dilibatkanbatkan secara sosial dan politik sehingga dapat menciptakan peluang bagi mereka untuk berkontribusi dalam proses pembangunan. Secara tradisional perspektif mereka kerap kali tidak dihargai dan dilihat sebagai ancaman terhadap sistem / stabilitas daripada peluang yang dapat dimanfaatkan untuk berkembang.

Selanjutnya, mereka yang lebih senior atau para orang dewasa perlu membagi pengetahuan dan pengalamannya. Dalam organisasi, para pemuda seringkali memiliki kesulitan dalam menghadapi akses terhadap berbagai sumber maupun akuntabilitas organisasi. Dalam hal ini peran mereka yang lebih dewasa dengan pengalaman dan pengetahuannya yang mumpuni sangat dibutuhkan. Untuk mendukung hal ini semua orang perlu bersama-sama memprioritaskan para pemuda bukan sebagai topik diskusi, tetapi bagaimana para pemuda dapat menjadi seorang pemimpin.

Konsil LSM Indonesia sesuai dengan Kode Etik Konsil LSM Indonesia, Pasal 3 (Anti-Diskriminasi) dan Pasal 4 (Penghormatan terhadap HAM) mengajak semua pihak untuk tidak hanya menjadikan para pemuda sebagai objek tetapi sebagai subjek, tidak hanya memberikan mereka suara tetapi juga mendengarkan suara mereka.

 

Sumber :

Youth in Development : We’re tired of Being the topic of the discussion not the leaders of it

How can young people wield more power around the world

Apa yang harus dilakukan apabila proposal Anda ditolak?

0

For the NGO, receive a rejection letter from funder is a usual thing. In a grant proposal writing, it has to be keep in mind is the “Go big or go home” for the fundraising world. Those lost of time is a risk of grant application that your work will be for nothing. It has to be remember since the very fist step on writing the proposal, but there are several way to prevent “your work for nothing”.

Many of the organizations, when receiving a rejection letter from a grant making us just accept it and move on. But there are several way to revive your application if you receive the dreaded letter declining your proposal.

  1. Contact the funder, ideally by telephone, to try to discover the reasons they have chosen not to support you. This insight can be invaluable and will help you to revise and improve your project for future applications.
  2. Ask whether you would be able to visit their offices to discuss how the two organizations might be able to work together in the future. This will demonstrate a willingness to adapt as well as a commitment to working together that may provide dividends in the future.
  3. Invite the funder to come and visit one of your best projects in action. Many funders love to escape their offices to go an witness exciting and innovative projects in actio If you can persuade them to visit and demonstrate the impact your work is making they are bound to remember you in the future.
  4. Discuss with the funder whether they would be happy to receive a revised and amended application in the future. This is another opportunity for them to guide you on the way to creating a proposal that fits within their criteria. Conversely they may advise you that your project simply isn’t something they wish to pursue meaning you can move on to other targe
  5. Engage the funder in a discussion around organization, its beneficiaries and projects. Try to gain an insight as to whether there is another project or area that they are keen to learn more about that might be a better funding opportunity that your original proposal.
  6. Propose that you keep them in touch with developments in your organization and ask them if there is anything in particular they might be interested in learning abo The funding organization may be concerned about a particular area of your NGO or project that they wish to monitor for progress for example.

So after knowing all of this way, you can’t only move on when received a rejection letter! Because you don’t lost your time and your work for nothing

Bagi LSM, penolakan dari penyandang dana atas usulan proposalnya, adalah hal yang biasa. Dalam pengajuan proposal, yang perlu diingat adalah “Go Big or Go Home”. Dalam dunia LSM dan strategi pengajuan dana, waktu yang terbuang dalam penulisan proposal, memang menjadi resiko sebagai pekerjaan yang sia-sia. Hal itu perlu diingat sejak awal penulisan proposal, namun ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk menghindari “pekerjaan sia-sia” tersebut.

Mungkin saat ini ketika mendapatkan surat penolakan beberapa LSM  hanya menerima dan kemudian move on, tapi sebenarnya ada hal-hal berikut yang dapat kembali dilakukan untuk menghidupkan kembali usulan proposal anda:

  1. Hubungi penyandang dana (idealnya melalui telefon), mencoba untuk menggali alasan mereka memilih untuk tidak mendukung usulan proposal anda. Masukan dari penyandang dana ini dapat membuat anda merevisi dan memperbaharui proyek anda untuk aplikasi di masa depan.
  2. Selanjutnya setelah melakukan kontak, anda dapat menanyakan kemungkinan mengunjungi kantor penyandang dana untuk mendiskusikan bagaimana kedua organisasi dapat bekerja sama di masa depan. Hal ini menunjukan kemampuan untuk beradaptasi serta komitmen untuk bekerja sama dari organisasi Anda.
  3. Anda juga dapat mengundang penyandang dana untuk datang dan mengunjungi salah satu kegiatan yang anda lakukan. Banyak dari penyandang dana senang untuk keluar dari kantor mereka dan melihat kegiatan-kegiatan yang menarik dan inovatif. Jika anda dapat mendemonstrasikan bagaimana dampak pekerjaan Anda, hal ini dapat membuat mereka mengingat Anda di masa depan.
  4. Diskusikan dengan penyandang dana, apakah mereka akan senang jika Anda merevisi dan memperbaharu aplikasi anda untuk diajukan di masa depan. Hal ini juga merupakan kesempatan bagi Anda untuk menciptakan proposal yang cocok dengan kriteria mereka.
  5. Libatkan penyandang dana dalam disksusi-diskusi organisasi atau kegiatan organisasi. Kumpulkan informasi, apakah ada kegiatan atau area-area tertentu yang mereka tertarik dan hal intu mungkin juga dapat menjadi peluang bagi anda.
  6. Usulkan bahwa anda akan menjaga hubungan dengan mereka dalam perkembangan organisasi dan tanyakan apakah ada hal-hal tertentu dari organisasi Anda yang menarik bagi mereka.

Setelah mengetahui hal-hal tersebut, jangan hanya move on setelah menerima penolakan! Karena tidak ada waktu yang terbuang, tidak ada yang sia-sia dalam penulisan proposal!

 

Source : FundsforNGOs

Tata Kelola LSM yang Baik: Board LSM

0

cache_e0_02_e002ca42ff673761b7dca9cc52a1f925

With the increase in the number of  NGOs globally, it is important that they are  managed effectivly and efficiently. Almost all NGOs have issues related to democracy as a core element of programs. However, is this value reflected in their management?

The internal affairs of organisation / management is often forgotten by NGO or not seen as being the primary priority. NGOs are more likely to be concerned about  the impact of their prorams on their beneficiaries than internal affairs. Besides that,organisational issues may also be considered as “internal” so others didn’t have right to interfere.

One frequently occurring organizational problem is an unbalanced relationship between board and management (executive). The board may have zero involvement, showing the absence of democracy in the management. The board used to have the significant roles as the strategic decision maker for the organisation sustainability.

In The Global Development Centre publication , it was mentioned that having a good and effective board, can contribute to the success of organizations; by including beneficiaries, having an understable organizational structure for other stakeholder,and  also clear division of responsibility in the organization. It is also one form of NGO accountability.

The issues that related to Board in organizations is an important issues to discuss, because there are phenomenon; not only in Indonesia; related to “sleeping boards” or over involved board. Examples of this are when a NGO  borrows the ‘name’ of the board to attract donors, or the board that have no interest to interfere the management,thinking that it was not their domain. This unbalance relations need to be improved in the realization of NGO accountability.

Konsil LSM is fighting for the accountability of NGOs, hoping that this phenomenon will be of concern to and addressed by all the parties. NGOs needs to improve their management, by balancing the board and management functions ideally. NGOs also haves to practice accountability principles and mechanisms, in order to increase public trust and support for civil society movements. To facilitate this, Konsil LSM supported by Ford Foundation will hold the Workshop Position and Role Reflection of Board in strengthening the NGO accountability in October 2016.

Eksistensi LSM yang semakin meluas, menunjukan bagaimana secara organisasional LSM juga dapat dikelola secara efektif dan efisien. Hampir semua LSM mengusung nilai-nilai utama demokrasi dalam berbagai program yang dilakukannya. Akan tetapi, apakah hal ini tercermin dalam internal organisasi?

Internal organisasi/manajemen kerap kali terlupakan oleh LSM atau tidak menjadi prioritas utama. LSM terlalu sibuk memikirkan manfaat dari berbagai program dan kegiatannya, sehingga permasalahan internal dikesampingkan. Lain dari pada itu, permasalahan internal juga benar-benar dianggap “internal” sehingga tidak dapat dicampuri oleh orang lain.

Salah satu masalah organisasional yang kerap terjadi adalah manajemen LSM yang dilakukan sepihak dalam ranah eksekutif. Tidak berperannya lembaga pengurus, menunjukan tidak terjadinya demokrasi karena hanya ditentukan secara sepihak. Padahal lembaga pengurus/board berperan penting dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis bagi keberlangsungan organisasi.

Dalam publikasi The Global Development Centre disebutkan bahwa dengan adanya board yang baik dan efektif dapat memberikan dasar untuk keberhasilan organisasi; termasuk kepada para penerima manfaat, adanya struktur organisasi yang mudah dipahami bagi stakeholder, serta ada pembagian tanggung jawab yang jelas dalam organisasi tersebut. Hal ini juga tentu saja sebagai salah satu bentuk akuntabilitas LSM.

Isu mengenai Board dalam organisasi menjadi sangat menarik untuk dibahas dikarenakan banyakanya fenomena; yang tidak hanya terjadi di Indonesia; mengenai board yang tidak berfungsi atau board yang terlalu berfungsi. Ada beberapa kejadian dimana LSM meminjam ‘nama’ untuk meyakinkan donor, atau ada pula board yang memang tidak ingin mengetahui apa yang terjadi kepada LSM tersebut karena merasa bukan ranahnya. Tidak seimbangnya relasi antara Board dan manajemen perlu diperbaik demi terwujudnya akuntabilitas LSM.

Konsil LSM Indonesia yang memperjuangkan isu akuntabilitas LSM berharap bahwa fenomena harus menjadi perhatian sehingga dapat terwujudnya fungsi board dan manajemen yang seimbang dan ideal. LSM perlu mempraktikan prinsip-prinsip dan mekanisme akuntabilitas, demi meningkatkan kepercayaan dan dukungan publik terhadap gerakan organisasi  masyarakat sipil. Untuk memfasilitasi hal ini Konsil LSM Indonesia didukung oleh Ford Foundation akan melaksanakan Workshop Refleksi Posisi dan Peran Dewan Pengurus (Board) dalam penguatan akuntabilitas LSM pada oktober 2016.

Akuntabilitas perlu menjadi payung utama LSM

0

The  diversion of funds  by a NGO in Malawi, resulted in UNICEF endinga partnership that had been built since 2006. The aim of the aid was to alleviate hunger and disease in Malawi. It An investigation into asanitation program that was meant to provide toilets, washbasins, clotheslines and dish racks, and to teach cleanliness aimed at preventing the spread of diarrhea, dysentery and cholera, found these were not provided. The toilet was actually a damp, uncovered hole and surrounded by flies. An investigation revealed, the misuse of the money by one of the NGO in Malawi.  Besides that a few months ago UNICEF also received a letter of complaints from the NGO’s staff that detailed stories about how that NGO didn’t treat their staff well.

What happened in Malawi, needs to be a matter for self-reflection by Indonesian NGO, to always uphold the accountability of their programs. During an interview about the Malawi case, the UNICEF staff also mentioned that when there are no benefits, there are no funds. NGOs must respondstrongly by also stating that without accountability NGOs should not exist. To keep going,  accountability has to be the main umbrella for NGO, so NGO can still exist and be trusted.

The case in Malawi also showed that the NGO was not financially accountable and acted as a  profit instead of non=-profit organisation. NGOs have to manage the funds from their donors to achive the aim of their programs and also the vision and mission of the organization. When a NGO isn’t able to do that,  this erodes  trust in the NGO’s ability to manage funding aimed poverty reduction, civil society empowerment also the environmental sustainability.

Terjadinya ‘relokasi’ dana yang tidak sepatutnya dilakukan oleh LSM di Malawi, membuat UNICEF memutuskan bentuk kerjasama kepada organisasi tersebut meskipun kerjasama telah berlangsung sejak tahun 2006. Dana tersebut awalnya dimaksudkan untuk mengurangi kemiskinan dan kepalaran di Malawi. Namun nyatanya ketika dilakukan investigasi terhadap salah satu program sanitasi yang dilakukan untuk mencegah penyebaran diare, kolera, dan disentri, fakta dilapangan tidak menunjukan hal tersebut terjadi. Toilet yang dibangun masih merupakan jamban dengan penuh lobang, tidak layak, serta mengundang lalat.

Dari investigasi ini terungkap adanya penyelewengan yang dilkukan oleh salah satu LSM di Malawi tersebut, selain itu beberapa bulan sebelumnya UNICEF juga menerima surat dari para staf LSM tersebut yang menceritakan bagaimana LSM tersebut memperlakukan para pegawainnya secara tidak  layak.

UNICEF cut ties questionable NGO Malawi

Fenomena yang terjadi ini, perlu menjadi refleksi diri bagi LSM-LSM di Indonesia secara khususnya untuk mengusung nilai-nilai akuntabilitas dalam setiap kegiatannya. Jika salah satu staf UNICEF mengatakan tidak ada manfaat maka tidak ada dana yang diberikan. LSM harus mampu menjawab tidak ada akuntabilitas tidak ada eksistensi LSM. Untuk terus menjalankan berbagai kegiatannya, akuntabilitas harus menjadi payung utama LSM yang tidak bisa dipisahkan untuk eksistensi dan kepercayaan terhadap LSM.

Kasus yang terjadi di Malawi tersebut juga menunjukan adanya pengelolaan keuangan yang tidak akunbel dan tidak nirlaba. LSM harus mampu mengelola dana dari para donornya untuk mencapai tujuan dari program yang telah ditetapkan. Jika LSM tidak mampu mengelola pada akhirnya, yang terjadi adalah ketidakpercayaan lagi kepada LSM untuk mengelola dana hibah untuk mengurangi kemiskinan, pemberdayaan masyarakat maupun kerusakan lingkungan.

Tidak hanya kepada lembaga donor, LSM seharusnya dapat mempertanggungjawabkan seluruh kegiatannya kepada seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan LSM, dari pemerintah, perusahaan, mitra-mitra LSM, para staf LSM, serta tentu saja para penerima manfaatnya.

Kenya Meminta Pekerja Ekspatriat di LSM untuk Pulang

0

Expatriate-241x200

The Kenyan Government has warned expat NGO workers to go home; the cause of this was the gap between the salaries and conditions of expatriats and local staff employed by  NGOs. .

Fazel Muhammed, the chief of the Kenya NGO Board stated  that expat salaries can reach US $ 18.000 in a month, excluding other benefits. Does that amount of money make Kenyans’ life better?

Fazul also mentioned, that Kenya has well qualified local staff throughout the country, and they are should be given priority to work in NGO sector. The Guardian raised this issue, questioning if it isn’t it hypocritical for an aid for an aid agency to come to a developing country looking to improve local lives, while at the same time economically discriminate against local staff within their organisation. Perhaps local staff are seen more as tools to implement aid programs without the expertise to make the big decisions.

In some Africa countries, as well as Kenya, there is some resentment to ‘white saviors’ , when the foreigner came to Kenya and look  at Kenya’s problems from a western rather than the local context. They come to help, but are actually trapped in the ‘aid system’. A further concern is “learned dependency”, when some of the beneficiaries might be happy to look poor, so the can get more and more aid.

In Kenya, a country where 42% of people living under the poverty line, the expatriates enjoy their life. They can send their children to international schools and are helped by employ drivers, cleaners, and cookers.

So does their ‘work’ actually result in Kenyans have a better life?

What did the response from NGOs?

Suba Hill, head of the Civil Society Reference Group (CSRG), an umbrella organisation for international and national NGOs in Kenya, said that these rules are perhaps good, but they are not in the interest of the country.

According to Hill, the government has become increasingly hostile to NGOs after local groups called on the International Criminal Court (ICC) to pursue President Uhuru Kenyatta and his vice president William Ruto over their role in ethnic violence that claimed more than 1 000 lives after a disputed presidential election in 2007. This policy only served to “drive a wedge between local and international NGOs” and starve local organisations that depend on funding from abroad.

International NGO in Kenya also highlight their work specifically on building local partner capacity, because the local partners who have deep roots in the community. But in terms of accountability, in terms of development effectiveness, it is not an overnight job. That is why their works needs to be continuos and follow the dynamic work of civil society movement.

Pemerintah Kenya berusaha untuk memulangkan para expatriat yang bekerja di LSM-LSM Kenya, hal ini terjadi karena beberapa faktor salah satu faktor utamanya adalah terjadi kesenjangan antara expatriat dan staf lokal di organisasi.

Fazul muhamaed, ketua Board LSM Kenya menyebutkan bahwa angka gaji ekspatriat bisa mencapai US $ 18.000 per bulan, belum lagi tunjangan-tunjangan yang didapatkan. Apakah uang tersebut membuat rakyat Kenya merasa lebih baik?

Fazul juga menyebutkan bahwa Kenya memiliki staf lokal yang memiliki kualifikasi diatas rata-rata di seluruh negeri, merekalah yang perlu diberikan prioritas pertama di sektor LSM.

Mengutip The Guardian bahwa terjadi ironi ketika ada LSM internasional ataupun lembaga donor yang datang ke negara berkembang dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupan lokal, namun secara organisasi terjadi diskriminasi terjadap staf lokal mereka. Staf lokal diangap sebagai alat untuk melaksanakan program bantuan namun tidak memiliki wewenang dalam pembuatan keputusan.

Di beberapa negara Afrika, salah satunya Kenya ada kebencian terhadap “white savior”, ketika orang asing datang ke Kenya dan tidak melihat suatu permasalahan dalam konteks lokal. Hal ironis yang terjadi dimana mereka yang datang untuk membantu justru hanya terjebak dalam suatu sistem bantuan. Beberapa masyarakat mungkin senang untuk terlihat miskin, sehingga mereka akan mendapatkan bantuan yang lebih banyak lagi.

Di negara dengan 42% penduduk hidup dibawah garis kemiskinan, para ekspatriats yang tinggal di Kenya menikmati fasilitas hidup di Kenya ketika mereka dapat mengirim anak mereka ke sekolah internasional, mempekerjakan warga lokal sebagai supir, asisten rumah tangga, koki, dll

Lalu “pekerjaan” yang mereka lakukan membuat kualitas hidup warga Kenya lebih baik?

Apa kata LSM?

Suba Hill, Ketua Civil Society Reference Group, organisasi payung bagi LSM Internasional dan Nasional di Kenya menyebutkan bahwa mungkin aturan ini adalah aturan baik, tetapi tidak dalam konteks kepentingan negara.

Menurut Hill, pemerintah semakin memusuhi LSM setelah kelompok lokal meminta ICC untuk mengejar Presiden Uhuru dan Wakil Presiden Ruto atas peran mereka dalam kekerasan etnis yang terjadi setelah pemilihan presiden pada tahun 2007. Kebijakan ini tidak lain adalah untuk “membuat perpecahan antara LSM lokal dan internasional”

LSM-LSM Internasional yang bekerja di Kenya juga menggarisbawahi pekerjaan mereka untuk membangun kapasitas mitra lokal, karena mitra lokal memiliki akar dalam di masyarakat. Tetapi dalam hal membangun akuntabilitas dan kapasitas masyarakat sipil (lokal), bukan pekerjaan satu malam. Sehingga hal ini dilakukan secara berkelanjutan dan mengikuti organisasi masyarakat sipil yang bergerak secara dinamis.

The Management of Non-Governmental Development Organizations

0

book coverThe profile of non-governmental organizations (NGOs) in the developing world has increased dramatically over the past decade. International and local NGOs have moved centre stage within international, national and local efforts to eradicate poverty, and are now seen as an important element of ‘civil society’, a concept which has been given increasing importance, alongside the state and market sectors, by policy makers. Drawing upon current research in non-profit management, development administration and management theory, this book explores the newly emerging field of the management of NGOs working in the area of poverty reduction in developing countries. By giving equal attention to the activities, relationships and internal structure of the NGO, the author develops a composite model of NGO management which seeks to analyses the distinctive challenges faced by these organizations.

 

 

Download the here for the book : The Management of Non-Governmental Development Organizations – An Introduction

Author : David Lewis

Bagaimana Cara Menyusun Concept Note?

0

By fundsforngos

 

Do you see extreme poverty around you and you wish to address this by introducing certain livelihood measures that will boost the income of the poor people, then this is your project idea.

You should then start searching for your donor agencies that can possibly fund your idea. It is easier to write the concept note after you have identified your donors because there are vast differences in their systems of accepting your project idea. Like mentioned earlier, some donors accept concept notes in certain format only while others just request a simple narration.

Besides following existing template, here the standard structure for develop a concept note!

  1. The Title

    An unstructured concept note should ideally have a title, submitted by, date of submission as the primary information in the header section. Preferably, the title should be short but make sure it reflects the overall idea of the project that resonates with the donor’s objectives.

  2. Introduction or Background

    The first section of the project should be an ‘introduction’ or ‘background’ of the project where you can state the problem you are trying address and also explain what are the root causes of this problem. You can conclude this section with the ‘opportunity’ available for you to make the intervention and address the problem. Usually, the ‘opportunity’ can be in form of your own skills that can used to reduce the problem or a government policy.

    Remember to give references in your narrative so that you can establish authority to the facts given. For example, if you explain that there is extensive poverty in the region, you need to supply some data and a reference. Also, try to give numbers in terms of men, women and children getting affected from the overall situation. In this way, you can ensure that gender has been integrated from the planning stage itself.

  3. Goal and Objectives

    List out the goal and objectives in this section. The goal is usually the long-term impact like ‘reduction in poverty’ or ‘improved living conditions of the people.’ It may not necessarily be achieved.

    Objectives have to be specific and if provide numbers, it will be more helpful. For example, 100 women will have access to newer sources of livelihood’. Also limit your objectives to 3 or 5 – the lesser number of objective, the more practical the approach will be.

  4. Expected Results

    This section briefly analyzes the result of your project. You can list out the results that the project will achieve during the project period. For example, 100 households have increased income from agriculture.’ Again, numbers can be very important while narrating expected results.

  5. Innovation

    A separate section explaining the uniqueness of your project will be very useful. As donors are interested to see what new value you are going add to this project, this section will quickly introduce them to the innovative approach you will use to address this problem. Although most concept notes may not have this section, but if you include it, it will create a positive effect to the donor agency.

  6. Budget

    The last section of the concept note will be the budget. Although detailed analysis is not required, you would still need to submit a reasonable sense of how much money you are seeking from the donor to execute the project. You can also give a quick breakup of the main items (not more than 5-6). Any matching contribution from you or any other agency can also be mentioned here.

    In developing a budget is not just to plan your project expenses but also convince your donors that you will deliver value to whatever money they give to the project. Or in other words, “it is a program explained in monetary terms.”

 


Apakah anda melihat ada kemiskinan di sekitar anda, dan ingin mengatasi hal ini? Anda memiliki ide yang dapat memperkenalkan langkah-langkah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat miskin tersebut? Maka membuat concept note adalah langkah pertama untuk mengimplementasikan ide Anda!!

Untuk membuat concept note, silahkan cari lembaga donor yang memungkinkan untuk mendanai ide tersebut! Hal ini dikarenakan lebih mudah untuk menulis concept note apabila telah mengetahui identifikasi calon donor, hal ini karena beberapa donor meminta concept note dalam format tertentu atau mungkin saja hanya narasi sederhana.

Selain mengikuti template yang sudah ada, berikut adalah struktur standar yang perlu diikuti untuk membuat concept note

  1. Judul

Judul yang menarik dan disukai adalah judul yang pendek akan tetapi memastikan bahwa telah mencakup seluruh ide program yang tidak bertentangan dengan visi ‘calon lembaga donor’

  1. Pendahuluan atau latar belakang

Bagian pertama dari concept note meliputi perkenalan atau latar belakang yang menyebutkan masalah i serta menjelaskan penyebab utama dari masalah-masalah ini. Paragraf ini juga meng highlight –intervensi- untuk mengatasi masalah, apa kesempatan yang kemudian menjadi ide anda.

Hal yang perlu diingat adalah untuk menyebutkan fakta yang anda, melalui data dan referensi. Serta berikan jumlah laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang terpengaruh dari situasi yang terjadi. Dengan cara ini, anda telah menunjukan perspektif gender telah terintegrasi dalam program anda sejak level perencanaan.

  1. Tujuan dan Sasaran

Bagian kedua dalah tujuan dan sasaran, tujuan adalah dampak jangka panjang seperti “mengurangi kemiskinan” atau “meningkatkan tingkat kehidupan manusia”.

Sedangkan sasaran harus spesifik, dan akan lebih baik apabila menyebutkan angka. Misalnya, 100 perempuan akan memiliki akses baru terhadap sumber enegi bagi kehidupan.  Hal yang perlu diingat untuk membatasi sasaram, karena semakin sedikit sasaran berarti semakin praktis pendekatan yang akan digunakan.

  1. Hasil yang diharapkan

Bagian ini secara singkat akan menganalisa hasil dari program/kegiatan Anda. Anda dapat menyebutkan hasil-hasil yang dapat dicapai program/kegiatan ini selama periode berlangsung. Misalnya, 100 rumah tangga berhasil meningkatkan pendapatan dari pertanian. Lagi-lagi, seperti pada bagian sebelumnya hal yang sangat penting adalah ketersediaan angka untuk menceritakan hasil yang diharapkan.

  1. Inovasi

Bagian terpisah tentang inovasi juga diperlukan untuk menjelaskan keunikan program/kegiatan akan sangat berguna. Donor akan sangat tertarik untuk melihat nilai baru yang akan ditambahkan dalam program ini. Meskipun biasanya beberapa concept note tidak memiliki bagian ini, tetapi apabila anda memasukan bagian ini, dapat memberikan dampak positif terutama terhadap lembaga donor.

  1. Anggaran

Bagian terakhir dari concept note adalah anggaran, meskipun analisa detil tidak diperlukan,. Alasan rasional dari permintaan sejumlah uang untuk mengeksekusi program perlu disebutkan. Anda dapat memberikan  item-tem yang diperlukan secara umum (tidak lebih dari enam item). Kontribusi yang anda dapatkan dari organisasi anda ataupun lembaga lainnya juga dapat disebutkan pada bagian ini.

Dalam penyusunan anggaran bukan hanya menjelaskan pengeluaran dari uang yang anda dapatkan, akan tetapi meyakinkan donor bahwa anda memberikan nilai terhadap uang yang diberikan oleh donor, atau dalam kata lain menjelaskan program dalam terminologi keuangan.

Teori dan Praktik Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

0

Globally and in the region, corporate governance and responsibility has been recognized by government leaders and other key stakeholders in society as an enabler for inclusive, equitable and sustainable development. Government policy can’t be relied upon only to make this happen.. This situation needs the involvement of other stakeholders; such the consumer, investor, mass media, and also the role of NGOs role of to encourage corporate to accept social responsibility.

Here in ASEAN, the new blueprint for fostering regional integration – “ASEAN 2025: Forging Ahead together” – was published in November 2015 and lays down the strategy for realizing a sustainable, inclusive and equitable regional community. While ASEAN citizens are technically part of an integrated ASEAN Community, we have yet to fully realize the region’s economic, political and socio-cultural integration. In the new ASEAN Community Blueprint, greater stakeholder engagement and public-private partnerships, better corporate governance, support for SMEs and social enterprises.

A week ago, in National University of Singapore and ASEAN CSR Network held the Conference on Corporate Governance and Responsibility: Theory Meets Practice. The conference has the held discussion about the CSR in ASEAN, also has the aim of connecting multi-stakeholder partnership for sustainability in development. The research Center for Governance, Institutions, and Organizations National University of Singapore (NUS) Business School showed the lack of understanding of corporate about CSR, this is also makes the quality of social responsibility is low. The research is study for 100 companies in four countries; Indonesia, Malaysia, Singapore, and Thailand.

According to executive deputy, S Rajaratnam School of International Studies Ong Keng Yong, the lack of understanding is happening because the corporate orientation on CSR is still thinking about profit and hasn’t integrate the CSR values yet into their strategy and decision making process.

Routine meetings to develop partnership between public-private-government in managing CSR have a significant impact and have to be held be continually. This is also the way to prevent the CSR that is only for charity and to implement sustainability as part of corporate’s business. This is hand in hand with Konsil LSM’s Program to develop partnerships between accountable NGO, companies and government for CSR programs that have a significant impact on poverty reduction and environmental sustainability. The CSR implementation has to implement the real corporate social responsibility, so the inclusive, equitable and sustainable development can happen for real.

Dalam level global ataupun kawasan, peran perusahaan dalam pembangunan yang inklusif, berkeadilan dan berkelanjutan telah diakui oleh para pemangku kepentingan lainnya. Untuk mendorong hal ini, tidak dapat dilakukan hanya dengan kebijakan pemerintah. Perlu adanya peranan dari pemangku kepentingan lainnya, seperti konsumen, investor, media, dan tidak luput peran LSM untuk mendorong perusahaan yang memiliki rasa tanggung jawab sosial.

Dalam level ASEAN, telah ada cetak biru untuk mendorong integrasi kawasan – “ASEAN 2025: Forging Ahead together” – yang dipublikasikan pada November 2015 dan menetapkan strategi dalam mewujudkan komunitas regional yang berkelanjutan, inklusif dan adil. Sementara sebagai warga ASEAN, kita belum sepenuhnya menyadari integrasi ekonomi, politik dan sosial budaya di kawasan ASEAN. Dalam cetak biru Komunitas ASEAN tersebut disebutkan adanya keterlibatan lebih besar anata para pemangku kepentingan dan kemitraan publik-swasta, tata kelola perusahaan yang baik, dukungan untuk UMKM dan berbagai perusahaan sosial. (ASEAN CSR Network)

Sepekan yang lalu National Unviersity of Singapure dan Asean CSR Network menggelar Conference on Corporate Governance and Responsibility: Theory Meets Practice. Pada Konferensi ini membicarakan tentang praktik CSR di ASEAN, dan akan menghubungkan pelbagai pemangku kepentingan untuk pembangunan berkelanjutan. Riset Centre for Governance, Institutions, and Organizations National University of Singapore (NUS) Business School memaparkan rendahnya pemahaman perusahaan terhadap praktik CSR, menyebabkan pula rendahnya kualitas tanggung jawab sosial. Riset itu melakukan studi terhadap 100 perusahaan di empat negara yakni Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand. (CNN Indononesia)

Menurut deputi Eksekutif S Rajaratnam School of International Studies Ong Keng Yong pemahaman korporasi di sebagian negara ASEAN tentang pentingnya corporate social responsibility (CSR) dalam implementasi bisnis berkelanjutan masih rendah. Hal ini terjadi karena orientasi perusahan apakahpraktik CSR menguntungkan dan belum mengintegrasikan nilai CSR dalam masing-masing strategi operasional dan pembuatan keputusan.

Pertemuan rutin untuk membangun kemitraan antara publik – swasta – pemerintah dalam membangun CSR yang berdampak signifikan perlu terus-menerus dilakukan, hal ini tentu untuk mengindari CSR yang hanya sebatas sumbangan dan berupaya mewujudkan perusahan yang meingimplemntasikan bisnis yang berkelanjutan.

Sebagaimana program Konsil LSM yang didukung Ford Foundation yaitu untuk Mengembangkan Kemitraan antara LSM yang Akuntabel, Perusahaan dan Pemerintah agar Pengelolaan Program CSR berdampak Signifikan terhadap Penghapusan Kemiskinan dan Kerusakan Lingkungan. Implementasi CSR harus bisa mewujudkan tanggung jawab sosial perusahaan yang sebenernya, agar  dapat mewujudkan tujuan bersama untuk pembangunan yang inklusif, berkeadilan dan berkelanjutan.