Tata Kelola LSM yang Baik: Board LSM

cache_e0_02_e002ca42ff673761b7dca9cc52a1f925

With the increase in the number of  NGOs globally, it is important that they are  managed effectivly and efficiently. Almost all NGOs have issues related to democracy as a core element of programs. However, is this value reflected in their management?

The internal affairs of organisation / management is often forgotten by NGO or not seen as being the primary priority. NGOs are more likely to be concerned about  the impact of their prorams on their beneficiaries than internal affairs. Besides that,organisational issues may also be considered as “internal” so others didn’t have right to interfere.

One frequently occurring organizational problem is an unbalanced relationship between board and management (executive). The board may have zero involvement, showing the absence of democracy in the management. The board used to have the significant roles as the strategic decision maker for the organisation sustainability.

In The Global Development Centre publication , it was mentioned that having a good and effective board, can contribute to the success of organizations; by including beneficiaries, having an understable organizational structure for other stakeholder,and  also clear division of responsibility in the organization. It is also one form of NGO accountability.

The issues that related to Board in organizations is an important issues to discuss, because there are phenomenon; not only in Indonesia; related to “sleeping boards” or over involved board. Examples of this are when a NGO  borrows the ‘name’ of the board to attract donors, or the board that have no interest to interfere the management,thinking that it was not their domain. This unbalance relations need to be improved in the realization of NGO accountability.

Konsil LSM is fighting for the accountability of NGOs, hoping that this phenomenon will be of concern to and addressed by all the parties. NGOs needs to improve their management, by balancing the board and management functions ideally. NGOs also haves to practice accountability principles and mechanisms, in order to increase public trust and support for civil society movements. To facilitate this, Konsil LSM supported by Ford Foundation will hold the Workshop Position and Role Reflection of Board in strengthening the NGO accountability in October 2016.

Eksistensi LSM yang semakin meluas, menunjukan bagaimana secara organisasional LSM juga dapat dikelola secara efektif dan efisien. Hampir semua LSM mengusung nilai-nilai utama demokrasi dalam berbagai program yang dilakukannya. Akan tetapi, apakah hal ini tercermin dalam internal organisasi?

Internal organisasi/manajemen kerap kali terlupakan oleh LSM atau tidak menjadi prioritas utama. LSM terlalu sibuk memikirkan manfaat dari berbagai program dan kegiatannya, sehingga permasalahan internal dikesampingkan. Lain dari pada itu, permasalahan internal juga benar-benar dianggap “internal” sehingga tidak dapat dicampuri oleh orang lain.

Salah satu masalah organisasional yang kerap terjadi adalah manajemen LSM yang dilakukan sepihak dalam ranah eksekutif. Tidak berperannya lembaga pengurus, menunjukan tidak terjadinya demokrasi karena hanya ditentukan secara sepihak. Padahal lembaga pengurus/board berperan penting dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis bagi keberlangsungan organisasi.

Dalam publikasi The Global Development Centre disebutkan bahwa dengan adanya board yang baik dan efektif dapat memberikan dasar untuk keberhasilan organisasi; termasuk kepada para penerima manfaat, adanya struktur organisasi yang mudah dipahami bagi stakeholder, serta ada pembagian tanggung jawab yang jelas dalam organisasi tersebut. Hal ini juga tentu saja sebagai salah satu bentuk akuntabilitas LSM.

Isu mengenai Board dalam organisasi menjadi sangat menarik untuk dibahas dikarenakan banyakanya fenomena; yang tidak hanya terjadi di Indonesia; mengenai board yang tidak berfungsi atau board yang terlalu berfungsi. Ada beberapa kejadian dimana LSM meminjam ‘nama’ untuk meyakinkan donor, atau ada pula board yang memang tidak ingin mengetahui apa yang terjadi kepada LSM tersebut karena merasa bukan ranahnya. Tidak seimbangnya relasi antara Board dan manajemen perlu diperbaik demi terwujudnya akuntabilitas LSM.

Konsil LSM Indonesia yang memperjuangkan isu akuntabilitas LSM berharap bahwa fenomena harus menjadi perhatian sehingga dapat terwujudnya fungsi board dan manajemen yang seimbang dan ideal. LSM perlu mempraktikan prinsip-prinsip dan mekanisme akuntabilitas, demi meningkatkan kepercayaan dan dukungan publik terhadap gerakan organisasi  masyarakat sipil. Untuk memfasilitasi hal ini Konsil LSM Indonesia didukung oleh Ford Foundation akan melaksanakan Workshop Refleksi Posisi dan Peran Dewan Pengurus (Board) dalam penguatan akuntabilitas LSM pada oktober 2016.

Share this article

Berita Lainnya

Related articles