Mengenal Lusi Herlina

Lusi Herlina lahir di Padang, Sumatera Barat pada 7 September 1965. Beberapa orang lebih suka memanggilnya dengan sebutan “Uni Lusi” yang berarti kakak dalam bahasa Padang. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Andalas pada tahun 1990, pekerjaan pertama beliau adalah di salah satu LSM di Padang. Lima tahun kemudian, beliau menginisasi berdirinya LP2M (Lempaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat) di Padang. Dalam periode tersebut, beliau juga menjadi fasilitator di isu-isu seperti: gender, kepemimpinan, pengembangan pertaninan dan perempuan di daerah pedesaan.

Bergerak di isu-isu perempuan, kemudian pada awal tahun 2000an Lusi merupakan komite  nasional eksekutif ASPPUK (Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil) di Jakarta. Beberapa tahun kemudian, beliau juga ditunjuk untuk menjadi Board di LSM dengan fokus serupa, yaitu isu perempuan di daerah pedesaan. Pengalaman lapangan lusi di LSM juga membawanya menjadi wakil ketua Komnas HAM untuk kantor perwakilan Sumatera Barat dari tahun 2006 – 2009.

Selain pengalamannya di lapangan dalam berbagai kegiatan LSM, Lusi juga menyadari tantangan yang dihadapi LSM secara organisasional. Dimulai dari tahun 2003 ketika beliau bergabung dengan tim monitoring dan evaluasi untuk pelaksanaan Transparansi dan Akuntabilitas LSM oleh Konsorsium Pengembangan Masyarakat Madani (KPMM). Kemudian pada tahun 2006, Lusi merupakan anggota dari Kelompok Kerja Akuntabilitas LSM, sampai pada tahun 2010 ia menjadi Direktur Eksekutif Kelompok Kerja Akuntabilitas LSM di Jakarta. Kelompok Kerja Akuntabilitas LSM kemudian menjadi lembaga yang dikenal dengan Konsil LSM Indonesia.

Pengalaman Lusi baik dalam kegiatan di lapangan seperti isu perempuan miskin di daerah pedeseaan, maupun memperkuat kapasitas LSM tidak terbantahkan, dengan pengalaman selama 20 tahun. Lusi dikenal sebagai pemimpin yang memiliki kepribadian kuat, beliau sering mengambil inisatif-inisatif dan tetap memegang prinsip-prinsipnya. Hal ini juga menjelaskan banyak LSM yang memintanya untuk menjadi fasilitator atau pembicara dalam beberapa isu. Beliau dapat membuat suatu diskusi menjadi dialog yang menarik.

Lusi suka untuk membagi pengalaman maupun pengetahuannya dengan orang lain, terutama para stafnya. Sebagai seorang direktur, beliau membuat stafnya menjadi berdaya, bukan hanya mengkritik tetapi memberi tanggung jawab dan mencontohkannya terlebih dahulu. Beliau tidak hanya membuat stafnya menjadi lebih baik, tetapi juga membuat mereka menjadi manusia yang lebih baik.

Tulisan ini dibuat untuk memperingati kelahiran Lusi Herlina, Selamat Ulang Tahun Ibu Lusi Tetap bekarya untuk gerakan LSM yang akuntabel.

Lusi Herlina was born in Padang, Sumatera Barat, on 7th September 1965. Some people call her “Uni Lusi” which has the meaning sister in Padangnese language. After achieved her bachelor degree from Andalas University in 1990, she has began working in one of the NGOs in Padang. It only took 5 years for her, until she initiated the NGO in Padang named LP2M (Lembaga Pengkajian Dan Pemberdayaan Masyarakat). During that time, she also became a facilitator for several topics such as; gender awareness, leadership, agricultural development, and woman in rural areas.

Based on her earlier experience in woman issues, in early 2000 she became a member of the national executive committee of ASPPUK (Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil) in Jakarta. Several years after, she was also appointed to the board of a similar NGO that has the focus on woman issues in both rural and urban area. Her field experiences in NGOs also lead her to become a deputy head of National Commission of Human Rights, in West Sumatera Representative Office, from 2006 until 2009.

Besides, the field experiences, Lusi is also fully aware of issues relating to NGO capacity building, it was in 2003 when she joined the monitoring and evaluations team for the implementation of Transparency and Accountability of NGOs by Konsorsium Pengembangan Masyarakat Madani (KPMM). She was also one of the members of the NGO Accountability Working Group (2006) until then she became the Executive Director of NGO Accountability Working Group (2010) in Jakarta. The NGO Accountability Working Group then became Konsil LSM Indonesia.

Lusi’s experiences both in organizing poor women in rural areas and increasing the capacity of NGOs are indisputable and span 20 years. She has a strong personality as a leader, she takes the initiative and holds to her principles. When she is in the discussion, she likes to provide facts that make her statement very strong. That is also why some of NGO ask her to became a facilitator or speaker in some issues. She can lead the discussion into an exciting dialogue.

Lusi likes to share her experiences and her knowledges with others, and as the director, she empowers her staff not only by telling them but by giving them responsibility and teaching them to become better staff and better person.

Share this article

Berita Lainnya

Related articles