Dari Aksi ke Isu “Paradigma Baru”

empowerment

Penggalangan dana secara massal atau masyarakat Indonesia mengenalnya dengan terminologi ‘udunan’ telah menjadi budaya yang lahir kembali dalam bentuk baru atau kita kenal dengan nama crowdfunding. Dengan hadirnya teknologi segala hal menjadi lebih mudah, atau kemudian dikenal dengan nama digital crowdfunding. Penggalangan dana secara digital telah menjadi fenomena yang unik dan menarik, dimana orang-orang berdonasi karena merasa terkoneksi dengan satu isu tertentu. Dalam beberapa situs-situs digital crowdfunding di Indonesia, dana-dana yang terkumpul bisa mencapai angka-angka fenomenal untuk menyelesaikan satu permasalahan tersebut.

Disisi lain suatu permasalahan sosial yang hadir di masyarakat dimana dulu menjadi perhatian LSM sekarang semua masyarakat bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi, cukup dengan menggalang dana di situs tersebut. Akan tetapi yang perlu menjadi perhatian bagi kita semua adalah dana-dana yang digalang oleh individu tersebut mungkin hanya menyelesaikan satu kejadian saja dan tidak memiliki dampak keberlanjutan yang lebih besar.

Situasi kedermawanan masyarakat dalam berdonasi ini harus ditangkap sebagai peluang besar bagi LSM untuk membuat kerjanya benar-benar nyata. LSM kini tidak hanya harus bergantung pada donor tertentu, siapa saja bisa menyumbang bagi kerja LSM tersebut. Akan tetapi tentu hal ini tidak mudah. Kegiatan-kegiatan yang mendapatkan udunan besar dalam situs-situs tersebut adalah kegiatan-kegiatan yang jangka pendek atau dikatakan dapat memiliki dampak yang nyata. Sementara kegiatan yang dilakukan LSM kerap kali dalam jangka panjang, sehingga dampak tidak dapat langsung terlihat.

LSM terbiasa untuk melihat isu-isu besar dan apa aktivitas yang dapat mereka lakukan, dan kerap kali kegiatan-kegiatan yang dilakukan hanya berupa kegiatan yang konvensional dan berulang; seperti seminar ataupun workshop. Kegiatan-kegiatan seperti ini sulit untuk berhasil dalam penggalangan dana publik. LSM harus mulai menyesuaikan diri tanpa menghilangkan jiwanya sebagai motor dalam gerakan sosial, dalam situasi-situas penggalangan dana publik LSM harus mencoba bergerak dari isu-isu kecil yang kemudian akan berdampak ke isu-isu besar.

LSM harus harus bertahan, fleksibel dan tetap mempertahankan kualitas kinerjanya untuk  terus memberikan kontribusi positif bagi pembangunan di Indonesia.


Fundraising, commonly referred to as ‘udunan’ by Indonesians has given birth to a new culture we know as crowdfunding.  Technology, has provided the opportunities for digital crowdfunding, which has become an unique phenomenon. People tend to donate because they are feel connected with certain issues. In some crowdfunding sites, the funds that are being collected reach numbers that we couldn’t imagined before.

On the other hand, the social problem that used to be the NGO work in the past now become everyone works. If they don’t have the money, they just need to campaign in the crowdfunding sites and try to make a change. However, we need to be concerned that the problem that being solved by indvidual only just one or two, NGO has to take a part to tackle the problem that has more sustainable impacts.

The generousity of Indonesian society is a great opportunity, if one person can make a change, we do believe that one organisation can make an advance. NGO not only has to depend on the donor, public can donate. This is not easy, because people tend to want to see the direct impact, when talking about the NGO and sustainability is more in the long term and indirect impact.

So? The NGO has to be more creative how their work to be implemented in one or two activities that is the breakdown for the big issues. Until now, NGOs always think about the issue first followed by  the action, often conventional activities ‘seminar’ or ‘workshop’. Such activities will be hard attract support using crowdfunding. NGOs need to be flexible but without leaving their idealism, and to have impact NGOs have to move from small issues to the big issues to achieve successful campaign in crowdfunding.

To survive, NGOs have to be, flexible, while maintaining a focus on whether their work is impactful and always giving a positive contribution for Indonesia.

Share this article

Berita Lainnya

Related articles