LSM harus Berkolaborasi, Mendengar dan Fokus untuk Keberlanjutan LSM

Non-Governmental Organisations was born by the civil movement – concerned on any social problems that keep happening – In Indonesia, Budi Utomo as one of the prioneer NGO born as the non political movement but social, economic, culture in 1908.

The development of NGOs has given a positive contribution for Indonesia, in multi-sector approach, however, the roles of NGOs started being replaced. Today society tends to have social enterprise that also offer in tackle any social problem, some are integrated or part with NGOs. The difference part between social enterprise and NGOs is their advocacy work, because even they can do the development work they aren’t do the advocacy.

NGOs that existed for years in Indonesia, some of them not have a good governance in management. This is cause, the NGO doesn’t get the trust both material or non non-material that become the threat for the sustainability. Besides that the NGOs that affiliate with the grassroots makes them too rooted in the society, that makes their work hard to perform to public as a whole. This is not wrong, however if the NGO didn’t promote their work, how NGO can survive and gain public trust?

The NGOs that being existed for years, for their valuable contribution to Indonesia must have a good governance in their management. The primary thing that in getting the grants don’t think as a competition with others. Keep doing this only show how the NGOs is lack of collaboration,  when actually if every NGO focus on their core issue, it can be used for a better collaboration.

The second things, that has to do is always listening. As the civil movement, the NGO sometimes forget that society need to be the center. When making the program, without asking, some NGO only do what they thing it is appropriate to do. NGOs has to have the willingness to learn from every stakeholder and get the feedback to ensure that their program can run well.

The last thing that already being repeated thousand times when talking about the Sustainability is being focus and specified. By being focus and specified, it could show the NGO great capability in the issue as the expert and still represent the inclusive society.

NGO has to survive, advance, and always give valuable contribution to Indonesia


Lembaga Swadaya Masyarakat lahir dari gerakan atau kerap kali keprihatinan terhadap suatu masalah yang terjadi di lingkungan sosialnya. Lahirnya Budi Utomo sebagai suatu gerakan yang bersifat non – politik tetapi sosial, ekonomi dan kebudayaan di Indonesia pada tahun 1908 yang merupakan cikal-bakal gerakan sosial di Indonesia.

Perkembangan Lembaga Swadaya Masyarakat telah memberikan kontribusi positif bagi Indonesia, dalam berbagai sektor, akan tetapi keberlanjutan lembaga swadaya masyarakat yang sangat berperan dalam pembangunan ini mulai tergantikan. Munculnya organisasi dengan sebutan “kewirausahaan sosial’ yang juga menawarkan untuk mengatasi suatu isu, beberapa terintegrasi dengan LSM atau menjadi bagian dari LSM sementara yang lainnya berkembang sendiri. Hal yang menjadi pembeda adalah, kewirausahaan sosial tidak melakukan kerja-kerja advokasi sebagaimana yang dilakukan LSM.

LSM-LSM yang hadir di Indonesia, mayoritas telah berumur puluhan tahun tetapi mengelola organisasinya dengan cara lama. Akibatnya, LSM tidak mendapatkan kepercayaan baik dalam bentuk materil maupun non-materil yang menyebabkan ancaman bagi keberlanjutan LSM. Selain itu LSM identik dengan gerakan-gerakan akar rumput yang justru membuat gerakannya sangat mengakar sehingga tidak dapat terdeteksi. Walaupun hal ini tidaklah salah, tetapi jika LSM enggan untuk mempromosikan kegiatannya, lalu bagaimana LSM dapat bertahan dan mendapatkan kepercayaan?

LSM yang telah berumur puluhan tahun tersebut, yang telah memberikan berbagai kontribusi positif bagi Indonesia harus berupaya untuk mengelola organisasi dengan cara-cara yang lebih baik. Hal utama dan yang paling penting adalah LSM jangan berfikir adanya kompetisi dalam mendapatkan dana-dana hibah. Hal ini justru menunjukan citra buruk bagi LSM yang kembali akan menyebabkan rendahnya kepercayaan masyarakat. Padahal dengan adanya isu-isu utama dari setiap organisasi,  seharusnya dapat dimanfaatkan dengan adanya kolaborasi yang baik.

Hal kedua yang dapat dilakukan adalah selalu mendengar. Sebagai gerakan masyarakat, LSM kerap kali lupa dan melihat faktor-faktor dari masyarakat tanpa bertanya terlebih dahulu apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat. LSM harus mau selalu mendengar dan menggunakan masukan-masukan tersebut untuk memastikan progam yang dilakukannya dapat berjalan dengan baik.

Kemudian hal terakhir dan telah dibahas beberapa kali dalam strategi keberlanjutan LSM adalah tetap fokus dan spesifik dengan isu yang diangkat. Dengan bersikap seperti itu akan menunjukan kemampuan LSM yang mumpuni dalam menangani suatu isu dan tetap mewakili kepentingan masyarakat secara inklusif.

LSM harus mampu bertahan, maju dan terus memberikan kontribusi positif bagi Indonesia.

Share this article

Berita Lainnya

Related articles